Sudut Lapang



Terik matahari sore menyoroti lapang sekolah. Koridor-koridor mulai sepi, hanya beberapa siswa yang masih berkeliaran.


"Gelap."

"Gelap, maksudmu?" Laki-laki itu mengernyit, ini sore hari.

"Kepalaku Ar, isi kepalaku gelap."

"Ada apa, lagi?"

Kaisa diam beberapa saat. Lagi? Apakah sebanyak itu?

"Kenapa Sa, ada apa?" Ar mengulang, suaranya selalu terdengar lembut. Walau mungkin dalam hatinya, ia sedikit tak nyaman sebab masih ada hal yang tak ia tahu tentang kaisa.

"Apa perihal kemarin?"

Hening.

Laki-laki berjas coklat itu kembali berbicara, "Sa maaf, aku terkesan menuntut kamu untuk cerita ya?" Mata teduhnya begitu menenangkan, semesta bagai menyimpan sesuatu yang besar disana. Misterius.

Bukan, bukan nggan. Kaisa hanya bingung, ia sudah jauh kehilangan dirinya hingga tak tahu apa yang sebetulnya ia simpan.

"Ar, banyak kabut di dalam sini." Kaisa menunjuk kepalanya, lalu memberi jeda beberapa saat. "Aku ingin tenggelam, supaya asap mengepul ini hilang."

"Ngga, awan lembap itu terlalu kecil untuk menghimpit keluasan hatimu."

"Tapi, aku capek. Semuanya abu-abu, aku ngga bisa lihat apa-apa."

"Istirahat, tidur berhari-hari juga ngga apa-apa Sa, kadang kita perlu menjauh dari hiruk pikuk dunia."

"Haha bahkan istirahat ngga bisa ngehilangin perasaan capek aku." Kaisa tertawa miris. Sebegitu rumit dirinya.

Ar menatap kaisa lagi. Aneh katanya. Ia selalu ingin terbenam di dunia gadis itu.

"Aku ngga tau apa yang sebetulnya kamu simpan selama ini, aku juga ngga tau kalau ternyata diri kamu sudah menyelam jauh di dasar lautan. Maaf ya, maaf aku terlambat ada dihidup kamu."

"Ngga apa-apa, lagi pula kamu ngga harus bertanggung jawab atas diri aku. Juga, orang lain ngga perlu ikut jatuh, kamu tau kan tenggelam itu rasanya sakit."

"Tapi, justru aku lebih sakit karena kamu sendiri dibawah sana. Bertahan ya, aku pasti nyelamatin diri kamu." Ar mengusap-usap lembut pucuk kepala Kaisa, perasaannya kian meluap ketika ia tahu jika hidup Kaisa seberat itu.

"Ah iya Sa, untuk apa kamu ingin tenggelam? Padahal kamu sudah jatuh sedari lama."

"Aku mau benar-benar tenggelam supaya hidupku cepat selesai."

Ar tertohok mendengarnya, hey! bagaimana bisa gadis itu berpikir demikian "Sa, masih banyak alasan untuk tetap bernapas. Ntah itu hal kecil atau bahkan besar. Diri kamu terlalu berharga jika pulang dengan cara itu. aku pernah baca kutipan seperti ini, mungkin dunia ngga semakin baik tapi diri kamu akan semakin kuat."

"Kamu ngga bisa mendaur ulang sampah plastik Ar."

"Apa?kenapa tetiba sampah, maksudmu?"

"Aku ngga berharga, aku cuma seonggok sampah. Berhenti ngebuat aku layaknya manusia."

"Didunia ini apapun, siapapun itu berharga Sa. Termasuk kamu, kamu cuma lupa siapa diri kamu."

"Lupa?"

"Ya, karena kamu sedang terbenam dibawah, didasar lautan sana. Kamu ngga akan sadar kalau ternyata diri kamu berharga, diri kamu lebih hebat dari apa yang kamu tau. Terimakasih ya Sa, sudah mau bertahan, bahkan ketika napas kamu tercekat."

_________________________________________


Terimakasih juga, sudah mau berlabuh diduniaku yang kelam, Arrasya.

Df

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer