Sambungan yang Putus


“Kadang, yang membuat kita tumbuh bukan sambungan yang menyala,
tapi yang sempat terputus dan menyisakan sunyi.”

"Kalau baca bukunya pake perasaan, emang gitu La." Aku menoleh ke belakang, mendapati kak Rayan yang membawa setumpuk buku science kesenangannya. 

"Aku penasaran deh kak, di dunia ini ada nggak ya orang yang gak peduli sama kegagalan."

"Banyak. Tapi diantara berjuta-juta manusia, cuman 1 orang yang terlalu peduli sama kegagalan."

"Siapa?"

"La. Fi. Za." Katanya sembari menekan setiap suku kata namaku.

"Aku nggak sebegitunya kok."

Kak Rayan tak mengindahkan ucapanku, ia justru menyodorkan buku dengan sampul pria berkumis, memakai kameja putih dan tuxedo hitam, Nikola Tesla. Hanya itu yang ku ingat dari judulnya. "Coba deh kamu baca buku ini, siapa tau relate." 

Aku mengernyit, "Masa perasaan aku disamain sama listrik sih?!" 

Kak Rayan mendengus, "Kamu tau kan setiap buku itu mengandung pesan dan amanat?" Aku mengangguk.

"Nah, nikola tesla yang kamu tau sebagai penemu listrik itu adalah orang yang berkali-kali gagal. Tapi, kegagalannya ini justru melahirkan ide-ide baru yang briliant dan berguna."

"Lalu hubungannya denganku apa?"

"Ya supaya kamu sadar aja. Hanya karena kita gagal, bukan berarti kita nggak tumbuh, La. Justru gagal itu banyak untungnya, kamu jadi tau apa kesalahanmu dan mana yang perlu diperbaiki. Dan yang utama, kegagalan itu bisa menghambat sesuatu yang mungkin aja akan menghancurkan kamu. Jadi, kenapa mesti sekhawatir itu?"

"Aku cuma ngerasa bersalah aja," Jawabku lesu.

"Kamu ngerasa bersalah sama sesuatu yang membantu kamu tumbuh?"

"Hah, eh?" Aku terdiam beberapa saat, apa yang kak Rayan bilang, adalah kebenaran yang sulit aku terima.

"Aku kalau jadi 'Gagal' Bakal ngerasa kit heart sih, La. Gak dihargain banget perjuanganku."

"Gak gitu, tapi iya sih, eh tapi kan maksudku bukan gitu kak..."

"Aku paham sama apa yang ada di sistem limbik dan korteks prefrontalmu itu, aku juga nggak bisa memaksa kamu buat cepat berdamai dengan perasaan bersalah tersebut. Aku cuma nggak mau kamu berlarut-larut dan membuang-buang waktu. Karena pada akhirnya, kita hanya perlu merasa bersalah ketika kita nggak mampu membuat diri kita tumbuh, La." Katanya sembari  merapikan buku-bukunya kembali.


Df

Komentar

Postingan Populer