Perihal Kehilangan
Bagaimana aku menjalani hari esok tanpamu? Aku sendiri, bisakah aku turut pergi bersamamu? Ngkau sudah pulang, aku tak memiliki alasan lagi untuk hidup, lantas bagaimana aku menghilangkan detak ini? Aku harus apa.
Di atas nakas putih, fotomu terpajang rapi. Dengan jas biru tua dan jam tangan hitam, ngkau memegang secangkir kopi hangat yang asapnya masih mengepul. Aku tersenyum pahit melihatnya. Saat itu, semua tampak baik-baik saja.
Hari sebelum kepergianmu, ngkau mengajak aku untuk melihat langit pagi sembari menyiram tanaman, kita banyak bercengkrama, mendiskusikan banyak hal. Katamu langit itu menyimpan permata, sebab ia mampu membuat kita ingat akan suatu yang berharga. Ah, sekarang aku paham, ngkau sudah disana ya? Karena, bumi hari ini begitu terang. Bagai menunjukan betapa ngkau bahagia di atas sana. Bila seperti itu adanya, aku turut bahagia sayang.
Aku juga masih ingat kita pernah berbincang perihal kepergian, bagaimana bila di antara kita ada yang lebih dulu pulang. Dan ngkau dengan kukuh berkata, aku yang harus lebih dulu. Sebab katamu, aku tak bisa jikalau tak ada aku, padahal aku yang paling membutuhkanmu disini. Lantas bila ngkau pergi, aku harus apa. Aku bertanya sembari memejamkan mata, menahan tangis. Lalu ngkau menjawab seraya mengelus lembut kepalaku. Hidup untukku, Nanti bila aku tak ada, tolong pergi ke tempat yang seringkali kita kunjungi dan tempat yang aku senangi pula. Makan makanan yang ngkau ingin sepuasnya, jangan lupa pesan menu kesukaanku juga ya. Sayang, aku akan kembali menjadi langit lalu tidur diatas hamparan bintang dan menaungi hari-hari indahmu nanti.
Begitu katamu. Namun setelah ngkau tiada, aku tak bisa menepati inginmu. Aku terlalu lemah, untuk bernapas saja rasanya sulit, tolong ajak aku bersamamu.
Suara tangis kian riuh kala ngkau masuk ke liang lahat, dunia seperti ambruk begitu saja. Kini ngkau benar-benar pulang, meninggalkan banyak hal, meninggalkan aku yang sakit seorang diri, meninggalkan kucing kesayanganmu, juga meninggalkan umma dan ayah. Nanti, siapa yang mau mendengarkan aku lagi? Siapa yang mau memeluk aku lagi? Aku ingin ikut bersamamu, tolong ajak aku.
Umma merangkul bahuku, ia tersenyum tegar walau aku tau dia yang paling rapuh. Katanya mau bagaimanapun dunia harus tetap berjalan.
Sayang, selamat tinggal aku akan selalu merindukanmu.
Df

.jpg)

🥺🥺
BalasHapus♡
Hapussakitnya luar biasa🥺
BalasHapusYaa......🙂
Hapus