Beranjak Dewasa
"Kenapa?"
"Kakak baca apa?"
"Baca novel."
"Aku boleh baca juga ngga?"
"Mmm, ngga."
Gadis kecil itu merenggut, ia ingin meminjam buku yang sedari tadi aku baca.
"Emang kamu udah bisa baca?"
"Belum."
"Loh, terus? novel kan isinya tulisan semua ngga ada gambarnya."
"Tapi, ininya bagus." Ia menunjuk-nunjuk cover buku yang bergambar ikan dan karang.
"Ini cuma sampulnya de, isi cerita di buku ini serem tau."
"Kalau serem, kenapa kakak baca?"
"Karena, kakak kan udah besar. Kakak tau cara ngadepin hal menyeramkan kaya gimana. "
"Woaah, keren banget. Aku pengen cepet besar kaya kakak." Katanya riang.
"Kenapa? Kenapa dede pengen cepet besar?." Aku menutup novel dan menyimpannya ke rak. Obrolan ini sepertinya menarik.
"Karena kalau udah besar, aku bisa ngelakuin apa aja sendiri, aku bisa jalan-jalan sendiri, aku bisa baca buku yang aku mau sebanyak-banyaknya, aku juga mau kaya kakak." Ia mengambil sisir dan mulai merapikan rambutnya.
"Aku mau rambut kaya kakak, aku mau secantik kakak, aku mau sehebat kakak, tapi aku ngga mau sakit."
Aku mengerjapkan mata, kalimatnya sedikit menohok. Huft dasar anak kecil.
"Kakak, keliatan sakit ya?"
"Ngga, kakak ngga pernah keliatan sakit. Cuman, tiap malem aku suka liat kakak nangis sambil megang dada. Berarti itu kakak lagi sakit ya?"
"Ng,ngga kok. Kakak lagi cape aja."
"Cape apa?"
"Nanti, kalau udah besar kamu ngerti kok."
"Yah bukannya jadi orang dewasa itu seru ya?"
"Emangnya yang menurut kamu seru, yang kaya gimana?"
"Yang bisa ngelakuin apa aja sendiri."
"Bener kok, beranjak dewasa itu seru karena kita bisa ngelakuin apa aja sendiri. Cuman, kita juga bakal ngelewatin hal berat sendirian. Bukan karena ngga ada siapa-siapa, bukan karena ngga ada yang peduli. Tapi, karena kita sadar kalau dunia orang lain juga ngga baik-baik aja. Makannya, kenapa orang dewasa sering ngerasa cape, ya karena mereka ngelewatin hal beratnya sendirian."
"Oh gitu ya." Katanya pelan
"Eh emang dede ngerti kakak ngomong panjang lebar?"
Ia mengangguk-ngangguk lalu memelukku.
"Kakak, aku ngga mau cepet besar, aku takut."
"Setakut-takutnya kamu nanti, segimana kamu bilang gabisa pun, kakak percaya kamu bisa lewatinnya."
"Berarti, kakak juga bisa ya lewatin yang berat-berat?"
"Bisa dong de."
"Terus kenapa harus nangis?"
"Terlalu banyak bebannya."
Df

.jpg)

Komentar
Posting Komentar