Kepada Biru Laut dan Anjani
Laut,
Bagaimana didalam sana? Apakah ikan-ikan masih senang bermain disekitar jasadmu? Kakimu sekarang sudah terbebas dari jeruji besi ya? Aku tahu karena waktu sudah membasuh tubuhmu hingga menjadi kepingan-kepingan tulang.
Laut,
Di dasar samudra sana, apakah ngkau bisa melihat mural Anjani? Atau bahkan bisa melihat betapa sengsaranya Anjani selama ini? Laut, ia seperti tidak bernyawa. Setelah kepergianmu hari itu, jiwanya hilang begitu saja. Bahkan, kita semua seolah mengambang hampa kala mengetahui akhir cerita dirimu. Betapa semua menyayangi ngkau Laut. Layaknya ngkau yang menyayangi tanah air sebegitu dalamnya.
Laut,
Aku tak pernah mengerti hingga akhirnya paham karena kisahmu. Bahwa membela bangsa sendiri belum tentu-bahkan tidak membuat kita aman dan jaya, namun justru membunuh diri kita perlahan-lahan. Seperti yang terjadi pada dirimu dan kawan-kawanmu. Ah iya, aku punya buku Bumi Manusia. Ini bukan fotokopian dan ngkau pasti senang bila melihatnya. Sampulnya cantik sekali, bukunya juga tebal. Tenang, sekarang buku ini sudah aman. Aku bisa membawanya kemana-mana. Tak perlu berlari-lari seperti dirimu.
Laut, ini tahun 2022. Tahun yang begitu modern, orang-orang sudah tak lagi menggunakan mesin tik. Teknologi juga semakin maju. Namun ya, seperti yang ngkau takutkan. Bangsa ini tetap diam. Laut, keadilan jatuh berkeping-keping di injak para tikus berdasi. Tak lagi ada tempat mengadu yang aman.
Hei lihat, aku berani menulis ini Laut! Apakah ngkau tak akan memberiku hadiah? Tidak tidak, cukup kembali saja. Tak perlu hadiah. Bisa kah?
Aku tahu, ngkau tak akan kembali. Yasudah, tenang disana ya semoga tidurmu lelap dan semoga tanah air baik-baik saja seperti inginmu.
~
Anjani,
Laut tak akan kembali, sama seperti air matamu yang mengalir deras karena serpihan duka. Duka kehilangan yang mungkin tak ada obatnya. Sebab hanya pelukan Laut penawar pedih lukamu.
Anjani,
Melihat jiwamu yang hilang, aku paham bahwa kepergian seseorang yang amat kita cinta mampu membuat kita ingin berhenti bernapas. Tapi ketahuilah Anjani, Laut ingin ngkau selalu baik-baik saja. Laut ingin ngkau kembali menjadi Anjani yang periang. Aku tahu anjani, ngkau berandai-andai kalau semua ini tak terjadi, semua hanya mimpi burukmu. Namun, ini memang sudah terjadi. Laut sudah tertidur lelap, lelap sekali hingga tak bisa lagi kita bangunkan.
Anjani,
kita mungkin tak bisa mengetahui apa yang akan terjadi dihari esok, tapi kita selalu memiliki waktu untuk meyiapkan esok hari yang nyaman.
Df

.jpg)

Komentar
Posting Komentar