Cukup Itu Yang Seperti Apa?
"Kak, jadi manusia emang seribet itu ya?"
"Ribet gimana maksudnya?" Rayan bertanya balik sembari mengisap teh yang ia buat tadi.
"Ribet harus pinter, harus kerja, harus baik, harus sempurna, harus-ah gitu deh."
"Kalau itu ribet, ya ngga usah dikerjain La."
"Loh, gabisa gitu dong. Kalau cuma diem nanti aku nggak bisa pinter, nggak bisa sempurna, nggak bisa ngelakuin hal-hal hebat."
"Jadi sebetulnya, manusia yang ribet, atau kamu yang ngeribetin diri kamu?"
Lala terdiam mencerna kalimat Rayan. Raut mukanya seketika berubah.
"La, ngga perlu cape-cape berusaha buat sempurna kaya apa yang kamu bilang. Karena nerima diri sendiri aja udah cukup."
"Memangnya, cukup itu yang seperti apa?"
"Yang barusan Kakak bilang."
"Apa toh, sempurna?"
Rayan mengepalkan tangan gemas, kenapa selalu kata sempurna yang gadis itu sebut.
"Lala, sempurna menurutmu apa?"
"Mmm menurutku, ketika orang-orang nerima diri aku karena aku hebat dan bisa ngelakuin semua hal."
"Itu aja?"
"Iya lah, kan itu udah jelas kak."
"La, gimana kamu mau diterima orang lain sedangkan kamu aja belum nerima diri kamu?"
"Aku-" Lidahnya tetiba terkelu.
"Cukup menurut kakak itu bukan sempurna. Tapi, ketika kita bisa menerima dengan lapang apa yang ada dalam diri kita. Karena ya, percuma kalau kita mati-matian ngejar kesempurnaan kalau nggak mau nerima diri kita. Lagi pula kesempurnaan itu ga akan pernah ada. Makannya, jangan pernah buang-buang energi buat hal mustahil kaya gitu La."
"Tapi, tetep aja kak." Lala masih mengelak, menurutnya perkataan Rayan barusan bukanlah apa-apa.
"Nggak apa-apa kalau kamu masih susah nerima, semua hal emang butuh proses. Tapi, Kakak pengin kamu tau, berdamai dengan diri sendiri adalah sesuatu yang paling menyenangkan, dan kamu juga bakal tau yang seperti apa 'Cukup' itu."
Lala hanya melenguh pelan. Makanan didepannya sudah dingin sedari tadi, ia jadi tak berselera sebab obrolan ini menjadi sedikit rumit karena berhubungan dengan diri sendiri.
Df

.jpg)

Komentar
Posting Komentar