Langit Malam Yang Menyenangkan
"La, gak mau pulang?"
"Baru jam segini kak."
Ah, tapi yang menyenangkan dari menjadi dewasa adalah, ketika kita bisa sepuasnya berada diluar rumah, bahkan sampai malam begini, imbuh Lafiza.
"Yasudah, mau beli jagung bakar?" Tanya Zakki.
"Nggak. Kak Zakki dari pada mondar-mandir begitu, lebih baik duduk disini. Aku mau tanya sesuatu." Lafiza menepuk-nepuk kursi kosong yang ada disampingnya. Matanya berbinar semangat.
"Apa, mau tanya apa?"
Lafiza, gadis yang biasa disapa Lala itu justru terdiam. Zakki menggeram gemas, dasar bocah aneh katanya. Bisa secepat itu kepribadiannya berubah.
"La, mau tanya apa?" Zakki mengulang.
"Mmm, nggak jadi deh."
"Loh kok nggak jadi?"
"Kayaknya pertanyaannya gak penting juga."
"Pertanyaan itu menjadi penting sejak terpikir sebagai pertanyaan. Jadi tanyakan aja La."
"Ah, itu bukan pertanyaan lagi kok."
"Apa Lalaaaaa." Ingin rasanya Zakki menjitak kepala gadis ini.
"Kak Zakki penasaran?"
"Penasaran sekali."
"Kenapa? Semua pertanyaan selalu bikin kak Zakki penasaran ya?"
"Nggak semua, beberapa informasi yang ditangkap sebagai sesuatu yang penting oleh pikiranku, selalu bikin penasaran."
"Berarti pertanyaanku termasuk sesuatu yang penting?"
"Iya, penting."
"Kenapa bisa penting?"
"Karena dari kamu La."
"Selain dari aku?"
Zakki menghembuskan napas. Sepertinya Lala memang diciptakan sebegitu uniknya hingga tingkah lakunya cukup membuat gemas.
"Ada, pertanyaan dari senior soal isi saldo."
"Hahaha," Lafiza terbahak-bahak. "Ada-ada saja kak Zakki ini."
"Hehe, tapi nggak ada yang bikin sepenasaran itu selain kamu."
"Kenapa"
"Mungkin alam bawah sadarku menangkap kamu sebagai informasi yang penting. Jadi pertanyaan-pertanyaan dari kamu itu penting."
"Informasi yang penting itu apa kak? Lagipula kan selama ini aku yang sering nanya, gimana kak Zakki mau dapat informasi?"
"Bukan pertanyaannya, tapi kamunya itu loh."
"Ah, akunya penting?"
"Iya La, aku pernah cerita soal proses rasa yang tumbuh kan, melalui puisi. Nah mungkin aku sedang merasakan itu sekarang."
"Puisi ini yang kak Zakki maksud?" Lafiza membuka catatan kecil yang berisi kumpulan-kumpulan puisi dari Zakki. Seperti ini
Kita dibangun dari intensitas aku dengan kamu yang lebih padat dari pada hiruk pikuk kota metropolitan dipagi hari
Kemudian perlahan empati merambat pada kedalaman hati
Seolah tak ingin kalah dari derasnya perhatian hujan pada bumi
Perlahan-lahan aku dengan kamu saling menitipkan nama dalam setiap remah do'a yang basah dikelopak mata
Hidup memang tidak hanya soal aku dengan kamu,
Namun seraya kaki memapah diri pada mimpi
Izinkanlah kasih sayang jatuh menyentuh rasa ilahi
Menggali takdir menempuh ribuan mil kesengsaraan.
- Zakki I
"Iya, puisi ini."
"Soal puisi ini, kak Zakki bilang proses rasa nggak semudah itu buat tumbuh. Artinya, gak akan cepet? Tapi kayaknya, buat kakak cepet ya?"
"Emang nggak akan cepet La. Dari fase ke fasenya akan punya waktu yang beda. Dari fase kagum, suka, lalu dari suka menjadi sayang, dan berubah lagi menjadi cinta. Aku rasa sekarang diriku sedang memastikan dimana fase aku sekarang."
"Ah iya kak." Jawab Lafiza singkat, ia sedang mencerna kalimat sekaligus perasaannya saat ini.
Pertanyaan yang akan Lafiza tanyakan tadi seketika hilang. Terganti dengan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya.
Df

.jpg)

Komentar
Posting Komentar