Puisi-Puisi Itu
Dan, dari semua hal yang telah terjadi, semoga kamu merasa lega atas usainya kita.
Sebab nanti, tak akan ada lagi gadis kecil yang meminta-minta perhatianmu, tak akan lagi ada gadis kecil yang senang mengeluh hingga membuatmu ikut merasa lelah, tak akan lagi ada gadis kecil yang berlarut mendoakanmu, yang menyayangimu tanpa kecuali, yang senantiasa mengerti dirimu meski ia terpogoh-pogoh melakukannya.
Dan lagi, kamu tak perlu merasa khawatir bila malam nanti belum memberinya kabar, tak perlu merasa berat untuk tak memprioritaskannya, sebab sekarang gadis itu sudah tak lagi menginginkannya, seperti inginmu. Seperti harapmu. Ia sudah bertumbuh secepat itu, sedewasa itu.
Selamat berlayar tanpanya, tuan.
Ah lantas, bagaimana dengan puisi-puisi itu?
Terlalu menyedihkan bukan bila akhirnya hanya menjadi arsip masa lalu. Seperti, sudah tak berarti lagi.
Namun, aku tak bisa berbohong perihal, betapa sakitnya membaca ulang puisi-puisi itu. Jadi, biarkan ia menjadi arsip saja ya? Biarkan ia menyedihkan, biarkan ia abadi dalam kotak itu. Akan aku simpan baik-baik supaya tak lagi ada yang membuka dan membacanya. Aku tenggelam karenamu, dan ternyata rasanya semenyakitkan itu. Jadi aku harap, tak lagi ada kita dalam sajak semesta supaya aku tak mencapai dasar.
Df

.jpg)

Komentar
Posting Komentar