Tapi...
"Ya, bisa aja."
"Kalau nggak ngejar apa-apa, apa kita bakal hidup?"
"Iya, bakalan tetep hidup La."
"Tapi?"
"Nggak ada tapi nya. Kan udah jelas."
"Tapi kak, kalau nggak ngejar apa-apa kayaknya bakalan hambar deh."
"Tapi, kalau ngejar sesuatu capek juga kaan?" Rayan menaikan kedua alisnya sembari tersenyum tipis.
"Aku rasa kali ini, iya."
"Memangnya selama ini nggak capek?"
"Nggak loh kak, aku sangat menikmati prosesku itu. Tapi sekarang, capek." Katanya merenggut.
"Pantesan nanya begitu."
"Kak Rayan kan orang pertama yang aku tuju kalau aku kebingungan sama hidup ini." Laki-laki berkacamata bulat itu tertawa, Lafiza memang selalu ada saja beban pikirannya.
"Tapi aku bukan pakar kehidupan La. Percaya banget kamu sama aku."
"Percaya itu meyakini sesuatu dengan sepenuh hati, sedangkan aku hanya membutuhkan tumpuan untuk mengambil keputusan dalam memecahkan masalahku ini."
"Sama aja."
"Nggak kak, beda!"
"Apa bedanya?"
"Bedanya, kalau percaya tu aku mengakui dan akan melakukan apa yang kak Rayan bilang. Sedangkan, selama ini aku hanya meminta kak Rayan untuk menumpu aku supaya aku bisa nanganin masalah ku sendiri. Tapi, aku tetep hati-hati sama tumpuan itu karena siapa tau tumpuan itu nggak cocok sama diriku."
"Waaah, cepet banget kamu besarnya, La." Rayan mengusap pucuk kepala Lafiza dengan lembut. Gadis ini sudah semakin dewasa, batinnya.
"Ah iya, sampai mana kita tadi?" Ucap gadis berkemeja salur itu.
"Sampai... Semestinya, kamu fokus pada apa yang diri kamu ingini, La." Rayan mengambil jeda beberapa detik. "Kalau kamu keluar dari jalurmu, seperti membiarkan orang lain mengambil alih perhatianmu sehingga kamu mengejar sesuatu untuk menarik mereka, mendapat pengakuan, dan berharap diterima, itu jelas akan ngebuat kamu capek."
"Tapi, aku memang mau diterima kak."
"Tapi, jangan sampai kamu kehilangan dirimu hanya untuk mengejar sesuatu yang nggak berguna, La. Meski katamu itu berguna karena orang lain akan menyukaimu atau menerimamu, namun apakah diri kamu menerima itu?"
Lafiza menggeleng pelan. Pilu dan sesak merambat pada dadanya.
"Kembali pada bahteramu itu, La. Lakukan apapun karena dirimu sendiri, lakukan sesuatu yang jelas akan diterima oleh dirimu."
"La, untuk menjalani hidup dengan senang dan tenang, kamu perlu menerima dirimu dulu. Dan aku yakin, kamu nggak akan merasa harus ngejar sesuatu yang ngebuat kamu capek dan kebingungan lagi sama hidup ini."
Df
.jpeg)
.jpg)

Komentar
Posting Komentar