Yang Abadi

Aku ingin menulis sesuatu yang aksaranya dapat membuat hatimu tergerak untuk menyapaku kembali, atau bertanya mengenai lukisan-lukisanku, atau setidaknya mengunggah hal-hal kecil agar aku tahu kamu masih dan akan selalu baik-baik saja di dunia ini. 

Namun, jemariku terlalu kaku, diksiku terlalu lapuk, sajak-sajakku tak ubahnya seperti rumah reyot yang sama sekali tak menarik untuk dikunjungi. Biarpun begitu, kamu abadi didalamnya, akan dan selalu abadi. 

Sebab itu aku selalu penasaran, dikehidupan berikutnya akankah kita bertemu lagi? Namun sayangnya, aku tak bisa menebak hal sekecil itu. Ntah karena masa sudah membawamu jauh sekali hingga tak lagi dapat aku terka, atau memang kita sudah kepalang selesai?

Bila kamu bertanya. Lantas, apa sekiranya yang belum selesai? 
Do'aku. Yang paling abadi. Hingga aku bisa menemuimu lagi dikemudian hari. Yang paling abadi hingga tak ada satupun yang bisa menggantikan namamu dalam untaian tasbihku.

Aku senang mendo'akanmu sebab aku tahu itu satu-satunya cara yang dapat aku lakukan agar kamu baik-baik saja. Agar kamu bisa meraih segala mimpimu. Agar tuhanku senantiasa menjagamu dalam segala daya. Biarkan aku terus menengadah memohon pada-Nya untuk segala kebaikanmu.

Kamu adalah kesemogaan yang selalu aku langitkan 

Df

Komentar

Postingan Populer