Berlayar


Aku selalu senang melukis. Dan, bagian paling menyenangkan dari melukis adalah ketika kamu bertanya apa makna dibalik lukisanku.

Tapi, setelah usainya kita, tak lagi ada yang meminta aku untuk berbagi kisah dan maksud yang ku sampaikan dalam lukisan-lukisanku. Ntah karena orang-orang lebih senang dengan wujudnya, atau memang hanya kamu yang selalu penasaran tentang karya kecilku ini. Aku tak tahu, yang aku tahu, betapa aku merindukan segala percakapan kita yang bukan perihal karya-karyaku saja. Seperti, sesuatu yang terjadi hari itu, makanan favorit ibumu di restoran cepat saji yang sempat kita kunjungi, atau perihal buku yang kita baca diakhir pekan. 
Ah, jadi bagaimana kabarmu?
Aku harap, kamu senantiasa baik-baik saja. Sebab aku selalu berbisik ditengah sayup-sayup kegelapan malam, meminta agar kamu selalu ada dalam penjagaan-Nya.

Dan, dalam goresan-goresan kuas ini, aku sampaikan;
Aku mengikhlaskanmu berlayar jauh meski aku terseok-seok melakukannya, meski dengan berurai kepedihan, dengan kegetiran, dan dengan kepiluan yang terus melebur pada serambi-serambi dermaga. Namun demikian aku paham, kita memang perlu berlayar sendiri-sendiri. Bukan karena aku tak lagi mau bersamamu, atau karena aku tak cukup baik untukmu. Tapi, agar masing-masing kita tak lagi bertemu dalam luka yang menganga serta pedih yang tak kunjung reda. Karena itu, tolong berlayarlah dengan aman, sebab aku hanya bisa menyisipkan do'a dalam pelataran geladakmu yang luas itu. Sungguh tak banyak. Namun, aku harap itu bisa menjadi bekalmu untuk menghadapi badai-badai yang berkecamuk. Dan, bila suatu saat ngkau berlabuh pada dermaga lain, tolong sampaikan pesan melalui burung camar atau ikan pari atau juga lembayung senja berwarna jingga dan biru kesenanganmu, agar aku tak perlu menunggumu kembali. Berbahagialah, pada apapun dan siapapun

Df

Komentar

Postingan Populer