Kita, Sudah Kepalang Tenggelam
Aku selalu senang dan bersyukur atas apa yang ditakdirkan untukku. Bahkan jika itu menyakitkan sekalipun. Sebab, bukankah menerima adalah satu-satunya jalan untuk lapang?
Tapi, hanya karena aku selalu menerima, bukan berarti aku layak mendapatkan kepiluan yang tak ada sudahnya ini. Aku, berhak untuk lebih dari merasa ada dan merekah.
Namun meski begitu, aku tak apa bila Sang Noor ingin aku bisa melewati segala badai dan riuhnya, aku tak apa bila Ia ingin aku bisa menghadapi segala duka dan kelamnya, prahara dan gemuruhnya, serta segala yang menyayat dan memilukan.
Hanya saja, setelah perjalanan panjang ini, hidupku berhenti. Hidupku berhenti, disana.
Ah, bagaimana aku menjelaskan bentuk luka yang begitu mengerikan ini ya?
Luka yang dipenuhi sayatan dengan lebam-lebam biru dan darah segar yang terkoyak, yang aku sembunyikan dibalik tirai yang ku buat sedemikian rupa, dengan motif riang dan warna yang ceria. Agar tak ada satu pun yang mengetahui betapa semrawutnya dinding dan ruang yang aku miliki.
Aku memang pandai menyimpan segalanya seorang diri, namun aku bebal untuk menemukan jawaban; Bagaimana aku menjalani hari setelah pelayaran ini? Setelah semuanya berhenti begitu saja. Setelah keheningan dan kebisuan yang merayap pada sela-sela nadiku.
Apakah masih ada setitik harapan untuk aku berjalan lagi? Apakah masih ada sebait kesempatan untuk aku memulai dan mengawali semua yang sudah padam?
Aku, diriku, bahkan tak tahu jawabannya.
Kita, sudah kepalang tenggelam.
Kita, sudah kepalang tenggelam.
df
.jpg)
.jpg)

Komentar
Posting Komentar